|
JENJANG |
: |
Level 3 (5-6) |
|
KONTEN |
: |
Teks Fiksi |
|
KONTEKS |
: |
Sosial budaya |
|
KOMPETENSI |
: |
Pemahaman |
|
RINCIAN KOMPETENSI |
: |
Menyimpulkan perasaan dan sifat tokoh serta elemen intrinsik lain seperti latar cerita, kejadian-kejadian dalam cerita berdasarkan informasi rinci di dalam teks sastra yang terus meningkat sesuai jenjangnya |
|
BENTUK SOAL |
: |
Pilihan ganda |
Hakim yang Adil
Seorang raja Aljazair bernama Bauakas ingin mengetahui sendiri, apakah benar yang dikatakan orang-orang kepadanya, bahwa disalah satu kotanya terdapat seorang hakim yang adil. Dia akan segera tahu kebenaran dan tak seorang penipu pun dapat berlindung darinya. Bauakas kemudian menyamar sebagai pedagang dan pergi menunggang kuda ke kota, di mana tinggal sang hakim. Dalam perjalanan ke kota, Bauakas dihampiri seorang cacat dan meminta sedekah. Bauakas memberinya sedekah dan bermaksud melanjutkan perjalanan, tetapi orang cacat itu malah memegangi baju Bauakas.
“Kamu mau apa?” Tanya Bauakas. “Bukannya saya telah memberimu sedekah?”
“Anda memang sudah memberi sedekah,” kata si cacat, tetapi buatlah lagi kebaikan, antarkan saya dengan kudamu sampai di alun-alun, kalau tidak kuda-kuda dan unta-unta akan menggilasku,”
Bauakas mendudukkan si cacat di belakangnya dan mengantarkannya ke lapangan. Sesampai di alun-alun Bauakas menghentikan kudanya. Tetapi pengemis tersebut tidak mau beranjak turun.
Bauakas berkata, ”Kenapa duduk saja, turunlah, kita sudah sampai.”
Tetapi pengemis itu berkata, “Buat apa turun, kuda ini milik saya, kalau kamu tidak mau baik-baik menyerahkan kuda ini, kita pergi ke pengadilan saja.”
Orang-orang berkumpul di sekeliling mereka dan mendengar. Kemudian semua berteriak, “Pergilah ke hakim, dia akan mengadili kalian”. Merekapun pergi menemui sang hakim. Di sana sudah ada orang- orang dan hakim memanggil seuai giliran. Sebelum tiba giliran Bauakas, hakim memanggil seorang terpelajar dan seorang petani, mereka diadili karena masalah istri. Si petani bilang bahwa itu istrinya, tetapi orang terpelajar mengatakan bahwa itu istrinya. Hakim mendengar mereka, diam sejenak dan berkata, ”Tinggalkan wanita ini pada saya, dan kalian kembalilah
besuk”.
Ketika mereka pergi, masuk tukang daging dan tukang minyak. Tukang
daging bajunya penuh darah, sedangkan tukang minyak penuh minyak. Tukang daging memegang uang di tangannya, dan tukang minyak memegang tangan si tukang daging. Tukang daging berkata: ”Saya membeli minyak dan ketika saya mengeluarkan kantung uang untuk membayarnya, dia malah menangkap tangan saya hendak merampas uangku. Karena itulah kami datang kepadamu. Saya memegang uang, dan dia memegang tangan saya. Tetapi uang ini milik saya, sedang dia pencuri.”
Si tukang minyak berkata, ”Itu tidak benar. Tukang daging datang kepada saya untuk membeli minyak. Ketika saya menuangkan satu kendi untuknya dia meminta saya untuk menukar uang emas. Saya mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas bangku, tetapi dia mengambil uang tersebut dan bermaksud lari. Saya menangkap tangannya dan membawanya ke sini.”
Hakim itu diam dan berkata, “Tinggalkan uang ini di sini dan kembalilah besuk”.
Ketika giliran Bauakas dan pengemis, Bauakas menceritakan bagaimana duduk persoalannya. Hakim mendengarkannya dengan
seksama dan bertanya kepada si pengemis, “Benar itu?” Pengemis berkata, “Itu semua tidak benar”
“Tentang uang si tukang daging saya mengetahuinya dengan cara saya letakkan uang di air dalam cangkir dan pagi ini saya memeriksanya, apakah muncul minyak dipermukaan airnya. Kalau uang itu memang milik si tukang minyak, maka uang tersebut akan terbungkus minyak dari tangan si tukang inyak. Ternyata di air tersebut minyak tidak ada, itu artinya, si tukang daginglah yang berkata benar”
“Tentang kuda, agak sulit mengetahuinya. Si pengemis, seperti juga kamu, dapat saja menunjuk kuda dengan tepat. Namun tentu saja tidak hanya sekedar mengenali atau tidak mengenali kuda saya membawa kalian berdua ke kandang kuda, akan tetapi, supaya dapat melihat siapa dari Anda berdua yang dikenali oleh kuda. Ketika engkau mendekatinya kuda itu, dia memalingkan kepalanya dan bergerak pelan kepadamu. Namun saat pengems menyentuhnya, kuda itu menjepit telinga dan menaikan kakinya. Karena itulah saya tahu bahwa engkaulah pemilik kuda sebenarnya.
Lalu Bauakas berkata, “Saya bukanlah pedagang, saya adalah Raja Bauakas”. Saya datang ke sini untuk melihat benarkah yang dikatakan orang tentang diri Anda. Sekarang saya melihat sendiri, bahwa Anda hakim yang bijaksana. Mintalah kepada saya apa yang Anda inginkan, saya akan memberi Anda hadiah.”
Hakim itu berkata, “Saya tidak perlu penghargaan, saya sudah bahagia bahwa paduka raja memuji saya.”
Mengapa Bauakas menyamar dan tidak ingin dikenali orang?
|
A. Dia ingin melihat apakah dia masih akan ditaati ketika dia menjadi orang |
|
"biasa". menyamar sebagai pedagang. mempermainkan subjeknya. |
D. Dia ingin melihat hakim bekerja dengan caranya yang biasa, tidak terpengaruh oleh kehadiran raja.
|
KUNCI JAWABAN |
: |
D |
|
PEDOMAN PENSKORAN |
: |
1 jawaban benar D 0 jawaban salah: menjawab A, B, atau C atau tidak menjawab |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar